Minggu, 01 April 2012


PUTRI TIDUR

Cerita diawali dengan cerita seorang putri yang tertidur di sebuah hutan lebat, kemudian datang lah seorang pangeran yang menghapirinya, kemudian membangunkan sang putri itu secara halus.
Pangeran : Dev, Bangun…!
Devi : Haa… dimanakah aku, kenapa aku ada disini. dan Dimana ka Istana ku.
Pangeran : Dev, sekarang dinegeri awan, sekarang kamu aman bersamaku disini. Dan soal keluargamu semuanya sudah diselamatkan oleh para Elf dari negeri bawah.
Devi : Lalu Pangeran siapa??
Pangeran : kalau aku adalah sebuah cahaya yang selalu berada didekatmu, yang akan selalu memberikanmu harapan yang indah.
Devi : Tidak mungkin, jadi kalau begitu apakah mimpiku ini sudah nyata ya.
Pangeran : Iya Tuan Putri, Mimpi mu sekarang telah nyata dan sekarang tuan putri berada di alamku.
Devi : Kalau begitu bawah aku menelusuri pemandangan yang indah ini, biar aku nikmati seluruh keindahan alam.
Pangeran :Baiklah tuan putri. Elf temanilah tuan putri dan ingat jaga tuan putri jangan sampai ia terjaga.
Elf 1 : Baiklah Pangeran, lewat sini tuan putri.
Elf 2 : Baiklah Pangeran, Lewat sini tuan putri.
Devi : Hmmm… alangkah lucunya kalian. Aku senang berkenalan dengan kalian berdua.
Elf 1 : Terimah kasih tuan putri.
Elf 2 : Terimah kasih tuan putri.
Pangeran : Nah, sekarang tuan putri boleh ikut dengan kedua Elf tersebut, biar pangeran akan menunggu di tempat ini.
Devi : Terima Kasih.
Tuan Putri pun meninggalkan pangeran hingga ditempat itu tinggal Pangeran saja. Sepeninggalnya tuan putri meninggalkan pangeran tiba tiba muncul sesosok badut.
Badut : Pangeran, apa yang harus aku lakukan sekarang??
Pangeran : Kau tinggal saja dulu disini, aku ingin engkau mempersiapkan
Peranmu menjadi pinokio,
Badut : yang mulia apa yang sebenarnya engkau mau lakukan terhadap anak itu, Bolehka hamba mengetahui rencana tuan terhadap gadis itu.
Pangeran : badut, aku ingin mewujudkan mimpi-mimpi dari anak itu, anak itu merupakan seorang pemimpi yang selalu merasa bahwa dia adalah seorang tuan putri yang cantik. Maka dari itu, aku sangat menyukai gadis itu dikarenakan dia mampu membuatku muncul menjadi sebuah cerita nyata.
Badut : Hahahahaha Begitu ya Tuanku. Dasar Putri Tidur.
 
 

Gara-Gara Jambu (Drama satu babak, 4 orang)

Di siang hari, Didi dan Dodo sedang mencari jambu. Kebetulan, mereka melintasi halaman rumah Paman Dodo.
Didi      : “Do, ini rumah siapa, ya? gedhe amat!”
Dodo    : “Ini rumah Pamanku, Di. Yah, lumayan besarlah di pedesaan kayak gini.”
Didi      : “Ehmmm …., Eh, tuh ada pohon jambu, mungkin di sana ada banyak jambu.
Kita boleh saja kan, mengambil satu  dua jambu saja. Aku fikir Pamanmu
nggak keberatan.”
Dodo    : (Sambil menggaruk-garuk kepala) “Iya..iya..Tapi, ambilnya pake’ apa?”
Didi      : (Mengambil batu) “Pake’ ini saja gimana?”
Dodo    : “Iya, deh. Nggak papa, lagi pula nggak ada galah.”
(Mereka pun melempar batu ke arah jambu yang ada di atas pohon)
Pyarr!!!
Didi      : “Kamu itu gimana sih, Do! Entar, ketahuan sama paman kamu.”
Dodo    : “Lantas , gimana ini? Kaca jendelanya sampai pecah. Ini juga gara-gara
kamu.”
Didi      : “Sudah. Kita naik ke atas pohon saja, dari pada ketahuan.”(langsung
memanjat pohon)
Dodo    : “Mendingan tadi memanjat saja. Terus, sandalnya, Di?”
Didi      : “Tinggalkan saja di bawah, susah manjatnya kalau pake’ sandal.”
Dodo    : “Iya.”(mengikuti perintah Didi)
(Paman Dodo keluar dengan wajah terlihat marah)
Paman : “Siapa yang berbuat begini! Dasar orang yang tidak beradab!”
(Lita pulang ke rumahnya dari les menari dan tiba-tiba dijatuhi batu)
Lita      : “Aduh… Siapa ini yang menjatuhkan batu? aduh… kepalaku sakit…”
Paman : “Lho, sudah pulang rupanya. Kamu kenapa, Lit?”
Lita      : “Itu, yah. Aku tadi pulang, dan berjalan melewati pohon jambu itu. Tapi,
anehnya nggak kejatuhan jambu, malah kejatuhan batu.”
Paman : “Lho, itu ada dua pasang sandal. Sandal siapa itu?”
Lita      : “Nggak tau juga, Yah.”
(Tiba-tiba Didi dan Dodo jatuh)
Paman : “Nah, ini dia! Kalian pasti yang sudah memecahkan kaca jendela paman.
Kalian rupanya juga mencuri jambu paman!”
Dodo    : “Ampun, paman. Maafkan kami…” (mata berkunang-kunang)
Didi      : (Berbisik pada Dodo) “Kamu bilang saja pada pamanmu. Kita mencuri
jambu untuk obat kakekku yang sedang sakit.”
Dodo    : “Baiklah.”
Paman : “Kenapa kalian ini?”
Dodo    : “Begini, alasan kami mencuri jambu paman. Kita ini sedang mencari
jambu untuk obat kekek Didi yang sedang sakit dan tadi kami tidak sengaja
memecahkan kaca jendela paman.”
Didi      : “Be..bet..betul itu paman. Kasihanilah kami…”(Dengan wajah berpura-pura
meminta belas kasihan)
Lita      : “Ah, alasan saja kalian ini. Tapi…”
(Lita langsung berbisik pada ayahnya.)
Lita      : “Ayah, bukannya kakeknya Didi sudah meninggal dua tahun yang lalu?
mereka pasti hanya ingin mencuri jambu saja. Begini, yah……”
Paman : “Baiklah.  Kalian boleh mengambil beberapa jambu dan paman maafkan
atas kejadian tadi.”
Didi      : “Yeyey… terimakasih, Pak!
Dodo    : “Wah, paman baik sekali. Berkat Lita, kita bisa dapat jambunya untuk
kakekmu, Di. Meskipun kita udah mecahin kaca jendela paman”
Lita      : “Ayahku memang bijaksana dan memaafkan kepada siapa pun yang
meminta maaf padanya.”
Didi      : “Maafkan kami juga, ya, Lit. Udah jatuhin kamu batu, itu tadi gara-gara
Dodo….”
Dodo    : “Bukannya kamu ya, Di?”
Lita      : “Iya,iya.”
(Mereka pun kembali memanjat)
Paman : “Tunggu sebentar..”
Didi      : “Ada apa?”
Paman : “Kalian boleh mengambil beberapa jambu. Tetapi, setelah kalian selesai
mengambilnya, kalian, paman persilakan untuk menyapu halaman rumah
paman.”
Didi dan
Dodo    : “Ya, Allah….!!!!”
Akhirnya mereka menyapu halaman rumah Paman Dodo yang lumayan luas dan Lita tetap menunggui mereka agar tidak melarikan diri.

0 komentar:

Poskan Komentar