Kamis, 16 Februari 2012

Sastra Religi

SASTRA DAN AGAMA
Oleh Siswo Harsono
Pokok persoalan religi berkaitan dengan tema dan pesan keagamaan dalam karya sastra. Tokoh dalam perspektif religi berkaitan dengan penokohan dalam karya sastra yang meliputi deskripsi, dramatisasi, solilokui, opini, dan kontekstualisasi. Tema-tema religious dapat dilihat dari pikiran, perasaan, perilaku, dan tindakan tokoh dalam karya sastra. Religiusitas tokoh dapat dilihat melaui penokohannya. Secara fisik deskripsi tokoh menggambarkan keadaan fisik. Dramatisasi menunjukan perilaku religious tokoh. Solilokui mengungkapkan pengakuan pengalaman keagamaan tokoh. Opini mengomentari religiusitas seorang tokoh menurut tokoh-tokoh lain. Sedangkan kontekstualisasi berkaitan dengan konteks religiusitas tokoh tersebut baik dengan dengan konteks sosial maupun konteks kulturalnya. Di samping itu, naming (penamaan) juga dapat dijadikan alat karakterisasi. Nama seorang tokoh memiliki hubungan afirmatif atau negative terhadap religiusitasnya.
Tema-tema religious dalam karya sastra berkaitan dengan persoalan ketuhanan dan keagamaan. Persoalan ketuhanan berkaitan dengan masalah teologi, pencarian tentang Tuhan, dan keyakinan. Persoalan keagamaan berkaitan dengan system kepercayaan, ritual, peran sosial agama dalam masyarakat dan lain-lain.
Pesan-pesan religius biasanya berada dalam satu paradigma berbuat baik dan menghindari kejahatan. Akan tetapi dalam karya sastra persoalan keagamaan bisa saja ditampilkan secara terbalik. Artinya karya sastra dapat saja menceritakan tentang kejahatan, keburukan, keangkara murkaan untuk dicarna oleh membaca secara negative agar tidak berkelakuaan seperti tokoh tersebut. Hal ini berbeda dengan wacana religius dalam aktifitas keagaamaan. Dalam aktivitas keagamaan lebih banyak menyatakan pesan kegamaan yang berkaitan dengan kebenaran, kebaikan, ketaqwaan dan keshalehan. Hal ini menunjukan bahwa risalah keagamaan berbeda dengan cerita sastra.
Dalam ranah sastra Inggris misalnya persoalan, tema dan pesan religious terdapat antara lain dalam karya John Bunyan, The Pilgrim Progress. Dalam ranah sastra Amerika antara lain digarap oleh Nathaniel Hawthorne dalam The Scarlett Letter. Dalam novel tersebut, Hawthorne mengangkat tema keagamaan melalui konflik tokoh Hester Pryne dengan norma-norma puritanisme.
Tokoh religius dalam novel tersebut tentu saja Arthur Dimmesdale. Dalam konflik antara Prynne dengan Dimmesdale merupakan persoalan kemanusiaan versus ketuhanan. Di satu pihak cinta adalah persoalan kemanusiaan, di pihak lain kependetaan adalah persoalan keagamaan. Akan tetapi affair antara kedua pecinta tersebut bertentangan dengan ketuhanan dalam konteks puritanisme di Amerika. Secara humanis tidak ada yang salah dalam percintaan kedua tokoh tersebut. Sedangkan secara keagamaan, percintaan tersebut merupakan tindakan yang terlarang. Pertama, agama melarang perselingkuhan. Kedua, pendeta mestinya hidup selibat. Jangankan berselingkuh, menikah pun tidak boleh.
Dari perspektif religiusitas feminis dalam novel tersebut menunjukkan adanya ketidakadilan dalam memperlakukan perempuan sebagai korban yang mesti dihukum baik secara moral maupun religius, sedangkan pendeta Dimmesdale bebas dari perbuatannya tanpa adanya sanksi moral maupun religius sama sekali. Kondisi demikian diperparah oleh perilaku masyarakat yang menghakimi Hester Prynne kemanapun dia pergi yang selalu diiringi gendering oleh anak-anak dan ditempeli huruf A yang berarti Adultery. Di sisi lain pendeta yang berkaitan dengan norma-norma keagamaan, kebaikan, dan kebenaran bebas dari perbuatannya. Di mata masyarakat pendeta tersebut tetap religious dan baik, tetapi di mata agama dia busuk dan munafik. Mestinya pendeta tersebut yang mendapatkan hukuman lebih berat baik secara sosial maupun religius.
Tema religius yang lain misalnya dalam puisi Ted Hughes yang berjudul “Theology”. Adm dalam puisi tersebut Ted mempersoalkan mitologi kejatuhan Adam dan Hawa dari surga. Menurut mitologi Islam maupun Kristen Adam dan Hawa jatuh dari surga karena digoda oleh setan untuk memakan buah kuldi. Akan tetapi dalam puisi tersebut bukannya setan yang menggoda Adam untuk makan buah kuldi, tetapi Adam dan Hawa itu sendiri yang melakukannya. Bagi Ted, mitologi Adam dan Hawa lebih bersifat psikoanalisis. Artinya buah kuldi sebagai buah terlarang memiliki makna sebagai organ tubuh manusia. Dengan demikian memakan buah terlarang sama dengan persetubuhan antara Adam dan Hawa.
Persoalan pokok dan tokoh dalam perspektif religi berkaitan baik secara intrinsik maunpun ekstrinsik. Secara intrinsik tema dan pesan religius terdapat dalam karya sastra, sedangkan secara ekstrinsik persoalan religiusitas dapat dijadikan perspektif analisis terhadap karya tersebut. Tema-tema religius banyak mengangkat pesan-pesan keagamaan yang disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Tokoh-tokoh religius dalam karya sastra tidak harus orang-orang suci seperti nabi, wali, pendeta, kyai, dan lain-lain, akan tetapi dapat juga menampilkan manusia biasa yang berkaitan dengan kahidupan keagamaannya. Dengan demikian tokoh dalam perspektif religius berkaitan dengan pikiran, perasaan, perilaku dan praktik-praktik keagamaan yang dilakukan oleh tokoh dalam karya sastra.
Analisis pokok dan tokoh dalam perspektif religi di satu sisi berkaitan dengan analisis tema dan pesan serta tokoh dan penokohan dalam karya sastra, dan di sisi lain berkaitan dengan perspektif keagamaan yang dijadikan pendekatan. Sebagai pendekatan analisis religi berkaitan dengan bentuk-bentuk keagamaan seperti Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Yahudi, dan lain-lain. Dengan demikian perspektif religi secara ekstrinsik digunakan sesuai dengan pokok dan tokoh secara intrinsik dalam karya sastra. Hal ini memungkinkan adanya perspektif multireligi karena adanya keragaman religiusitas pokok dan tokoh dalam karya sastra.***

0 komentar:

Poskan Komentar